Welcome to v1olet Blog


All photos, unless I mention and credit the source, are my personal photo stocks. If you like my photos and would like to use them, please ask by writing your comment.

Showing posts with label Kemilau Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Kemilau Indonesia. Show all posts

Sunday, August 12, 2012

Minangkabau Journey : Pacu Jawi

Pacu Jawi Binuang Mandahiliang
Nagari Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar
14 Juli 2012



Pacu Jawi (Balapan Sapi) adalah salah satu alasan mengapa saya ikut trip Kemilau Indonesia. Pacu Jawi adalah olahraga di kabupaten Tanah Datar selama ratusan tahun. Sejak tahun 2006 event ini mulai terdengar dan ternyata yg mempopulerkan event Pacu Jawi ini adalah Kemilau Indonesia. Dalam dunia fotografi, event Pacu Jawi jadi tujuan hunting dan banyak foto-foto Pacu Jawi yg menang lomba.  Makanya saya kepingin melihat langsung dan coba mengabadikannya.  Ternyata mamang seru dan berkesan. 





Pacu Jawi ini diadakan setelah panen padi.  Berlangsung selama seminggu.  Setahun ada 4 kali dan diadakan bergiliran di 4 desa atau nagari di Kabupated Tanah Datar.  Kali ini tuan rumahnya adalah Nagari Sungai Tarab.  Arenanya adalah sawah berlumpur yg sudah dibersihkan dari tanaman padi dan rumput-rumput.  Kita datang di acara penutupan atau puncak acara. 

Arena Pacu Jawi


Pacu artinya adu, balap, atau lomba.  Jawi artinya sapi.  Jadi Pacu Jawi artinya adu sapi atau balapan sapi.  Berbeda dengan karaban sapi atau lomba sapi lainnya, Pacu Jawi ini sapinya tidak diadu, tapi menurut saya seperti kontes sapi.  Sepasang sapi akan berlari dengan arahan seorang joki.  Yang dinilai adalah bagaimana sepasang sapi ini berlari dengan serasi, cepat, dan lurus.  Ini adalah filosofi hidup, kalau sapi saja jalannya bisa lurus, apalagi manusia hidupnya harus lurus alias tidak melenceng dari norma-norma yg berlaku.  Jurinya adalah pemuka adat setempat.  Jokinya ada beberapa orang dan mereka inilah yg dipilih oleh pemilik sapi untuk mengendalikan sapi-sapinya. Para joki ini berbadan kekar dan sangat andal, karena mereka naik di atas bajak yg ditarik oleh sepasang sapi dan dia berpegangan pada buntut kedua sapi itu.

Joki berotot kawat bertulang besi he he he ... fitness dimana neehhhh ....

Penampilan para Joki, Juragan Sapi dan penonton banyak yg unik -- ada yg pakai topi seperti cowboy, ada yg pakai topi seperti blankon, dll.  Ada pembawa acara dengan pengeras suara yg akan memimpin acara sekaligus mengawasi penonton yg berkerumun di sekitar arena.


Membawa bajak


Sebelum bertanding, sapi-sapi dimandikan, dan digiring ke lapangan untuk tunggu giliran berpacu.  Tiap pasangan akan dapat giliran 5x, setelah itu sapi-sapi akan dimandikan lagi kemudian istirahat.  Sapi untuk Pacu Jawi bukanlah sapi biasa yg digunakan untuk membajak sawah, tapi special buat Pacu Jawi.  Sapinya kekar berotot dan harganya mahal.  Jika sapi ini cidera saat bertanding, misalnya kakinya patah .... tiada berguna lagi, dan riwayatnya tamat dijagal. 

Menarik sapi ke arena, sapinya ogahhhh ...

Bajak yg dipijak oleh Joki

Saat Pacu Jawi, sang joki tidak pakai pecut untuk memacu sapi-sapi itu, tapi dia akan menggigit buntutnya.  Unik bukan?

Gigit Buntut Jawi supaya ngaciiiirrrrr ....

Buntut digigit, jawinya merem melek tuhhh ...

Memotret Pacu Jawi ini seru, unik, dan lucu.  Arenanya sawah berlumpur, kita jadi sering kena cipratan.  Karena sawah ini terasering, spot kita memotret sedikit lebih rendah dari arena.  Jika sapinya berlari melenceng, bisa-bisa mereka terjun ke tempat kita memotret.  Jadi sembari memotret, kita harus jeli melihat kemana arah larinya sapi-sapi itu.  Kalau mendekati arah kita, kita harus sigap lari menyelamatkan diri.  Kalau tidak, kita bisa diseruduk.  Kalau kita telat lari, minimal kita kena cipratannya .... ya maklum dah ... sapiiiiiii suka blong remnya.  Itu sebabnya ada pembawa acara yg bawa-bawa toa pengeras suara sebagai usher yg menghalau kerumuman orang yg menghalangi jalur larinya sapi.  Pihak PORWI (Persatuan Olahraga Pacu Jawi) sangat kooperatif dengan para fotografer khususnya fotografer Kemilau Indonesia he he he....  Selain group kita, banyak juga fotografer lokal maupun mancanegara misalnya dari China, Australia, dan bule-bule lain. Ada orang Australia yang membuat film/video event Pacu Jawi ini.  Saya tahu, sebab waktu motret ini, di kiri saya fotografer China (suami istri) dan di kanan saya kameramen dari Australia dengan asistennya yg gesit menutup kamera jika jawi-jawi mendekat sembari menciprat lumpur.



Boss Dodi Sandradi diantara para fotografer yg belepotan lumpur

Cipratan lumpur, bikin foto jadi dramatis

Tips memotret Pacu Jawi (versi Dodi Sandradi, Kemilau Indonesia) :
1. Lensa Tele 70-200 mm
2. AV
3. Aperture f/5.6 - 6.3
4. Speed minimal 1/1000
5. ISO minimal 200
6. AI Servo
7. Auto WB
8. Continuous Hi Speed
9. Compact Flash yg cukup (tak ada waktu buat hapus-hapus foto yg salah)
10. Lap untuk bersihkan cipratan lumpur, plastik buat tutupin lensa
11. Outfit : baju tangan panjang (biar gak gosong), celana pendek (biar sigap loncat), sendal jepit (biar gampang bersihin lumpur, cuci kaki), dan topi (puanassss). 

Oya, sendal jepitnya yg bagusan dikit kualitasnya, sebab ada kejadian sendal jepit salah satu rekan kita sampai putus waktu lari-lari menghindari sapi-sapi yg keluar arena. Terpaksa nyeker sampai dibelikan sendal jepit baru.


12. Penonton ... boleh pakai payung.  Payung pink juga boleh he he he ....



Selain acara di arena Pacu Jawi, ada juga keramaian dan hiburan rakyat setempat.

More photos, please visit my Flickr

Next : Suasana Pacu Jawi

rgds,
Lucy

Sunday, July 22, 2012

Travel : Minangkabau Journey - Rumah Gadang

Minangkabau Journey, 13-15 July 2012
Kemilau Indonesia



Sudah lama ingin ke Padang dan Bukittinggi, akhirnya kesampaian juga.  Saya ikut Minangkabau Journey yg diadakan oleh Kemilau Indonesia. Saya berdua dengan Liendha, teman sejak zaman kuliah dulu.  Peserta group kita ada 18 orang plus komandan kita Dodi Sandradi bossnya Kemilau Indonesia, plus Mbak Frida, istrinya.

Kita berangkat tgl 13 Juli 2012 dengan pesawat Lion Air, flight JT252, ETD 05:50, ETA 07:35.  Janjian ketemu Liendha di Terminal 1B SoeTa.  Pesawat berangkat agak telat dikit, tapi bisa dimaklumi soalnya Late Is Our Nature ...

Setelah ambil bagasi kita keluar dan di sana langsung disambut dengan rekan2 seperjalanan kita, yg ternyata duduknya pada berdekatan lantaran sudah web check-in oleh Kemilau Indonesia.  Jadi tadi kita duduk sebelahan tapi cuek-cuekan malah pada tidur nyenyak tanpa ngobrol2 he he he ...  Kita langsung digiring menuju bus pariwisata dan selama perjalanan menuju tempat sarapan, kita diperkenalkan satu per satu supaya cepat akrab. Seru juga.  Sarapan kita adalah Ketupat Padang.  Maaf tidak saya foto soale masih jetlag he he he .... Ketupat Padang ini isinya sederhana, cuma ketupat dan sayur nangka, tanpa sayur pakis, tapi bumbunya pas dan enak.  Plus kerupuk pink.  Minumnya teh manis mendidih ... bukan main panasnya ... xo xo xo ...

Sudah sarapan kita menuju ke Padang Panjang untuk makan Sate Padang Mak Syukur.  Wah ... komplit nih, wisata fotografi dan wisata kuliner.  Perjalanan sekitar 2 jam lebih dan dimanfaatkan oleh kita semua untuk melanjutkan acara tidur, sebab tadi pagi kan bangun jam 3 supaya bisa check in jam 4:30.

Sate Padang Mak Syukur
Tiap makan Sate Padang, jadi ingat saat-saat kuliah di UI ... menu makan malam kita nih ... Seperti biasa, saya makan ketupat dan bumbunya doang, satenya pindah semua ke piring Liendha, saya cuma icipin 1 tusuk aja.  Jadi Liendha makan 15 tusuk bok!




Minumnya teh manis hangat, seperti biasalah ... Tapi ada yg pesan Teh Taluik yaitu Teh panas dikasih kuning telur ayam.  Minuman perkasa nih ... supaya sehat dan kuat.


Perut sudah kenyang, waktunya kita foto arsitektur Rumah Gadang.

Rumah Gadang di Padang Panjang

Rumah Gadang adalah rumah khas orang Minang, kata teman saya, Ika, atapnya yg lancip-lancip itu disebut atap bagonjong.  Foto yg di atas itu adalah tampak depan, pintu masuknya dari situ.  Sedangkan kalau dari samping, bentuknya unik, dan konstruksi kakinya tidak tegak tapi miring-miring.  Ini bukan saya ambil fotonya miring loh, lihat saja dasarnya rata dan tanaman di depannya juga tegak lurus.



Nah, sekarang foto tampak dari depan.  Bagus kan bentuknya. 



Narsis corner ... woooohoooooo ...

Photo credit : Liendha

Di dalam Rumah Gadang ini ada berbagai barang dan perlengkapan adat Minang yg dipakai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minang.  Ada pelaminan yg merah meriah dan ada penyewaan baju adat Minang dan bisa foto-foto untuk kenang-kenangan.  Rekan-rekan kita jadi model dadakan supaya kita bisa foto-foto.  Modelnya adalah Mas Dodi + istri, Pak Bob, Ine, Lany dan Liendha.  Jadi total 2 cowo dan 4 cewe.  Seru nih ...  Model tanpa make-up dan tanpa gincu .... maklum fotografer ribet bawa gear, gak bawa cosmetic case he he he ...

Lany sedang didandani, di belakangnya Mas Dodi sedang inspeksi sembari tunggu giliran

Ini hiasan kepala yg beratnya minta ampun ... bikin kepala sakit dan pusing beneran, bukannya "pusssiiiinngg" pura-puranya Peggy Melati Sukma ya ....



Semua busana yg disewakan adalah busana pengantin dari berbagai daerah di Ranah Minang, misalnya yg warna kuning yg dipakai Liendha adalah busana pengantin dari daerah Batu Sangkar.  Ada warna merah, hijau, pink, dll.

Datuk 'Bob' Maringgih dan selir-selir


Pengantin centil, gaya Cherrybell

Datuk Maringgih dan Siti Nurbaya ... 

Ine - Liendha - Lany






Pengantin beneran nih ....

Mau lihat busana pengantin dari belakang?  Ini fotonya ....


Udah ... udah .... modelnya capek, lehernya udah pada sakit pakai bando yg amboiiiii beratnyo.  Habis potret-potret kita kembali ke Padang untuk makan siang..

Oya, dalam perjalanan menuju Padang Panjang, Batu Sangkar, kita melewati Air Terjun Lembah Anai yg letaknya dekat dengan pinggir jalan.  Bahkan dari dalam bis kita bisa melihat air terjun itu.  Bolak-balik, jadi kita lihat air terjun itu 2X.  Sebetulnya kalau ada waktu bisa berhenti untuk foto-foto air terjun, jembatan kereta api yg bentuknya unik, atau mau foto slow speed di sungai kecil yg berbatu-batu.  Next time deh ... ngeburu waktu untuk foto sunset.


Ini foto sungai kecil di tengah rimbunnya pohon-pohon hutan lindung.  Salah satu paru-parunya Indonesia kata Liendha he he he ...  Ini difoto dari balik jendela bis, jadi harap maklum, kualitas kurang prima.

Next : Pantai Nirwana

rgds,
Lucy