Bleberan Lor, Gunung Kidul, Yogyakarta
December 23, 2018
Saya suka memotret pemandangan di jalan yg saya lalui. Kalau bisa berhenti dan memotret, saya happy banget ... karena bisa dapat foto-foto yg enggak umum. Kalaupun tidak bisa berhenti, ya ... enjoy saja motret dari jendela mobil ...
Ini foto-foto sawah di Desa Bleberan Lor, Gunung Kidul, Yogykarta
Setelah itu kita melewati jembatan dan kita berhenti lagi untuk foto-foto di jembatan.
Masuk ke kota Yogyakarta sudah malam dan hujan. Kita makan di Rumah Makan Raminten, menunya Ayam Penyet dan minum Wedang Uwuh.
Kembali ke Hotel, istirahat.
Next Posting : Top Selfie Kragilan
rgds,
Lucy
Welcome to v1olet Blog
All photos, unless I mention and credit the source, are my personal photo stocks. If you like my photos and would like to use them, please ask by writing your comment.
Showing posts with label Gunung Kidul. Show all posts
Showing posts with label Gunung Kidul. Show all posts
Saturday, January 04, 2020
Yoyakarta Trip 2018 : Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Kidul
Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran,
Gunung Kidul
December 23, 2018
Sepertinya Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Kidul tidak terlalu favorit untuk wisatawan yang ke Yogyakarta, bahkan supir mobil sewaan kita saja belum pernah ke sini, dan baru tahu ada tempat wisata ini.
Sebetulnya saya ke sini juga karena ingin tahu, walaupun di dalam hati agak ragu dan serem karena tempat wisatanya sepi, berupa gunung batu dan gua-gua seperti jaman purbakala.
Karena tahu wisatawan domestik suka selfie, maka di sini juga banyak spot-spot selfie dengan tema purbakala he he he ...
Harap perhatikan waktu kunjungan kalau ke sini, jangan sampai kesorean, karena jalan ke sini kecil dan berliku-liku, sebaiknya saat masih terang.
Sudah menjelang sore, jadi saatnya pulang.
Next Posting : Sawah dan Pemandangan di Jalan
rgds,
Lucy
Gunung Kidul
December 23, 2018
Sepertinya Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Kidul tidak terlalu favorit untuk wisatawan yang ke Yogyakarta, bahkan supir mobil sewaan kita saja belum pernah ke sini, dan baru tahu ada tempat wisata ini.
Sebetulnya saya ke sini juga karena ingin tahu, walaupun di dalam hati agak ragu dan serem karena tempat wisatanya sepi, berupa gunung batu dan gua-gua seperti jaman purbakala.
Karena tahu wisatawan domestik suka selfie, maka di sini juga banyak spot-spot selfie dengan tema purbakala he he he ...
Harap perhatikan waktu kunjungan kalau ke sini, jangan sampai kesorean, karena jalan ke sini kecil dan berliku-liku, sebaiknya saat masih terang.
Sudah menjelang sore, jadi saatnya pulang.
Next Posting : Sawah dan Pemandangan di Jalan
rgds,
Lucy
Yogyakarta Trip 2018 : Pantai Watu Kodok
Pantai Watu Kodok, Gunung Kidul, Yogyakarta
23 Desember 2018
Di Gunung Kidul ada 34 - 50 pantai yg bisa kita kunjungi untuk berwisata, tapi dari 50 itu ada yg belum bagus fasilitasnya. Yang sudah lumayan bagus sarananya (ada lapangan parkir, ada restoran, ada toilet dll) baru belasan saja, dan pantai-pantai itu sudah lumayan terkenal di wisatawan domestik.
Memasuki kawasan Pantai Gunung Kidul kita bayar retribusi untuk orang dan kendaraan. Kita diberi peta supaya kita tahu urut-urutannya dan lokasinya. Beberapa Pantai yg sudah terkenal seperti Pantai Indrayanti, Siung, Timang, Kukup, Baron, Drini, Krakal, Ngelambor, Wediombo, Jogan, Sadeng, Slili, Ngobaran, Sundak, Sepajanjang, dll
Beberapa tahun yg lalu saya ke Pantai Kukup. Kali ini saya ke Pantai Baron, ternyata ini pantai yg paling ramai karena selain untuk wisatawan, pantai ini juga jadi pelabuhan penangkapan ikan, jadi banyak kapal-kapal nelayan. Dari lapangan parkir saya naik ojek ke pinggir pantai, soalnya kaki saya sakit / bengkak, dan jarak dari tempat parkir ke pantai tuh jauh. Mobil enggak bisa masuk ke dekat pantai.
Pantai Baron
Ini Pantai Baron yg ramai pengunjung
Karena terlalu ramai, diputuskan untuk pindah ke pantai lain yg lebih tenang dan mobil bisa masuk sampai dekat pantai. Tujuan kita ke Pantai Watu Kodok.
Pantai Watu Kodok
Pantai ini masih sepi, tidak banyak orang sehingga bisa leluasa menikmati Pantai dan pasirnya, bisa foto-foto juga (enggak bocor dimana-mana).
Mobil bisa masuk sampai ke ujung. Kita turun dan jalan-jalan di pantai sambil foto-foto, mobilnya tunggu kita di ujung dekat pintu awal kita masuk, jadi enggak usah balik ke ujung sana lagi.
Kenapa namanya Watu Kodok ? Katanya batu-batu besar di pinggir pantai bentuknya seperti kodok. Tapi saya lihat batunya berbentuk batu biasa, engga kayak kodok. Mungkin daya imajinasi saya kurang oke.
Di sini juga ada mas-mas fotografer yg menawarkan jasa foto pakai kamera DLSR. Tarifnya Rp 3.000,-/foto. Kita difoto-foto sebanyak-banyaknya di lokasi yg kita mau, nanti dipilih yg kita mau, yg kita gak mau di-delete. Yg kita bayar yg kita mau saja. Dua foto di bawah ini difoto sama mas fotografer, tapi saya edit lagi sesuai selera saya.
Setelah foto-foto dan pilih-pilih foto (waktu memilih lebih lama daripada waktu kita "action" he he he), kita meninggalkan Pantai Watu Kodok untuk makan siang. Kita makan siang di salah satu restaurant di Pantai Indrayanti.
Restorannya besar, tapi suasananya sederhana, alias meja dan kursi kayu, tingkat kebersihannya agak kurang, tapi masakannya enak dan murah. Ini termasuk restoran yg terbesar di pantai ini loh ...
Setelah kenyang, kita melanjutkan perjalanan ke Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Kidul.
Next Posting : Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Kidul.
rgds,
Lucy
23 Desember 2018
Di Gunung Kidul ada 34 - 50 pantai yg bisa kita kunjungi untuk berwisata, tapi dari 50 itu ada yg belum bagus fasilitasnya. Yang sudah lumayan bagus sarananya (ada lapangan parkir, ada restoran, ada toilet dll) baru belasan saja, dan pantai-pantai itu sudah lumayan terkenal di wisatawan domestik.
Memasuki kawasan Pantai Gunung Kidul kita bayar retribusi untuk orang dan kendaraan. Kita diberi peta supaya kita tahu urut-urutannya dan lokasinya. Beberapa Pantai yg sudah terkenal seperti Pantai Indrayanti, Siung, Timang, Kukup, Baron, Drini, Krakal, Ngelambor, Wediombo, Jogan, Sadeng, Slili, Ngobaran, Sundak, Sepajanjang, dll
Beberapa tahun yg lalu saya ke Pantai Kukup. Kali ini saya ke Pantai Baron, ternyata ini pantai yg paling ramai karena selain untuk wisatawan, pantai ini juga jadi pelabuhan penangkapan ikan, jadi banyak kapal-kapal nelayan. Dari lapangan parkir saya naik ojek ke pinggir pantai, soalnya kaki saya sakit / bengkak, dan jarak dari tempat parkir ke pantai tuh jauh. Mobil enggak bisa masuk ke dekat pantai.
Pantai Baron
Ini Pantai Baron yg ramai pengunjung
Karena terlalu ramai, diputuskan untuk pindah ke pantai lain yg lebih tenang dan mobil bisa masuk sampai dekat pantai. Tujuan kita ke Pantai Watu Kodok.
Pantai Watu Kodok
Pantai ini masih sepi, tidak banyak orang sehingga bisa leluasa menikmati Pantai dan pasirnya, bisa foto-foto juga (enggak bocor dimana-mana).
Mobil bisa masuk sampai ke ujung. Kita turun dan jalan-jalan di pantai sambil foto-foto, mobilnya tunggu kita di ujung dekat pintu awal kita masuk, jadi enggak usah balik ke ujung sana lagi.
Kenapa namanya Watu Kodok ? Katanya batu-batu besar di pinggir pantai bentuknya seperti kodok. Tapi saya lihat batunya berbentuk batu biasa, engga kayak kodok. Mungkin daya imajinasi saya kurang oke.
Di sini juga ada mas-mas fotografer yg menawarkan jasa foto pakai kamera DLSR. Tarifnya Rp 3.000,-/foto. Kita difoto-foto sebanyak-banyaknya di lokasi yg kita mau, nanti dipilih yg kita mau, yg kita gak mau di-delete. Yg kita bayar yg kita mau saja. Dua foto di bawah ini difoto sama mas fotografer, tapi saya edit lagi sesuai selera saya.
Setelah foto-foto dan pilih-pilih foto (waktu memilih lebih lama daripada waktu kita "action" he he he), kita meninggalkan Pantai Watu Kodok untuk makan siang. Kita makan siang di salah satu restaurant di Pantai Indrayanti.
Restorannya besar, tapi suasananya sederhana, alias meja dan kursi kayu, tingkat kebersihannya agak kurang, tapi masakannya enak dan murah. Ini termasuk restoran yg terbesar di pantai ini loh ...
Setelah kenyang, kita melanjutkan perjalanan ke Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Kidul.
Next Posting : Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Kidul.
rgds,
Lucy
Wednesday, August 26, 2015
Java Trip : Pantai Kukup Gunung Kidul
Pantai Kukup, Tanjungsari, Gunung Kidul
Yogyakarta, 20 February 2015
Berangkat dari Yogyakarta pagi hari setelah sarapan, tapi mampir beli Bakpia Kurnia Sari dulu, lalu beli thiwul Yu Tum juga. Jadinya sampai di Pantai Kukup sudah tengah hari, saatnya makan siang. Setelah parkir (lapangan parkirnya luas), kita masuk menuju pantai. Kita melalui warung-warung yg jual makanan. Yg menarik bagi saya adalah udang goreng garing yg dijual kiloan, dan rumput laut goreng.
Siang itu panas banget, matahari bersinar terik. Kita sewa tikar dan kita pilih lokasi di bawah batu karang biar adem. Makan bakpia dan thiwul dulu lah ...
Pantai Kukup ini termasuk lokasi pantai di Gunung Kidul yang baru dikelola dijadikan tempat wisata. Bisa dibilang ini mirip Tanah Lot di Bali. Pantainya berkarang dan berlumut, pasirnya coklat, ada batu karang yg besar-besar, bergua-gua, ada pulau karang yg terhubung dengan jembatan, dan ikan laut hias di sini bagus-bagus. Kalau suka mancing, bisa mancing. Kalau suka fotografi, sebaiknya datang sore hari, selain sudah tidak terlalu panas, juga di Pantai Kukup ini sunsetnya bagus. Sayang saya datangnya masih siang. Makin sore, makin ramai yg datang, karena mau lihat sunset.
Pantai berpasir coklat, batu karangnya besar-besar
Berkarang, berlumut, dan banyak rumput laut
Banyak gua-gua
Pulau Karang yg terhubung dengan jembatan
memancing ...
main air ..
mencari ikan hias
ikan hias yg dijual
Selagi mama dan tante saya beli nasi bungkus, udang dan rumput laut goreng, saya mulai foto-foto dan karena langit sangat flat (siang bolong sih ...) maka saya slow speed aja pakai filter ND 400 supaya dapat efek kabut-kabut kapas-kapas ...
Sekitar jam 14.30 kita pulang supaya tidak terlalu sore sampai di Yogyakarta. Mungkin lain kali kalo ke Yogyakarta lagi, saya mau datang lagi ke Pantai Kukup atau Pantai Baron, yg letaknya berdekatan. tapi sore hari supaya dapat foto sunset.
more photos : Album Java Trip
to be continued
next posting : Soto Pak Sholeh
rgds,
Lucy
Yogyakarta, 20 February 2015
Berangkat dari Yogyakarta pagi hari setelah sarapan, tapi mampir beli Bakpia Kurnia Sari dulu, lalu beli thiwul Yu Tum juga. Jadinya sampai di Pantai Kukup sudah tengah hari, saatnya makan siang. Setelah parkir (lapangan parkirnya luas), kita masuk menuju pantai. Kita melalui warung-warung yg jual makanan. Yg menarik bagi saya adalah udang goreng garing yg dijual kiloan, dan rumput laut goreng.
Siang itu panas banget, matahari bersinar terik. Kita sewa tikar dan kita pilih lokasi di bawah batu karang biar adem. Makan bakpia dan thiwul dulu lah ...
Pantai Kukup ini termasuk lokasi pantai di Gunung Kidul yang baru dikelola dijadikan tempat wisata. Bisa dibilang ini mirip Tanah Lot di Bali. Pantainya berkarang dan berlumut, pasirnya coklat, ada batu karang yg besar-besar, bergua-gua, ada pulau karang yg terhubung dengan jembatan, dan ikan laut hias di sini bagus-bagus. Kalau suka mancing, bisa mancing. Kalau suka fotografi, sebaiknya datang sore hari, selain sudah tidak terlalu panas, juga di Pantai Kukup ini sunsetnya bagus. Sayang saya datangnya masih siang. Makin sore, makin ramai yg datang, karena mau lihat sunset.
Pantai berpasir coklat, batu karangnya besar-besar
Berkarang, berlumut, dan banyak rumput laut
Banyak gua-gua
Pulau Karang yg terhubung dengan jembatan
memancing ...
main air ..
mencari ikan hias
ikan hias yg dijual
Selagi mama dan tante saya beli nasi bungkus, udang dan rumput laut goreng, saya mulai foto-foto dan karena langit sangat flat (siang bolong sih ...) maka saya slow speed aja pakai filter ND 400 supaya dapat efek kabut-kabut kapas-kapas ...
Sekitar jam 14.30 kita pulang supaya tidak terlalu sore sampai di Yogyakarta. Mungkin lain kali kalo ke Yogyakarta lagi, saya mau datang lagi ke Pantai Kukup atau Pantai Baron, yg letaknya berdekatan. tapi sore hari supaya dapat foto sunset.
more photos : Album Java Trip
to be continued
next posting : Soto Pak Sholeh
rgds,
Lucy
Sunday, August 16, 2015
Java Trip : Gathot dan Thiwul Yu Tum
Wonosari, Yogyakarta, 20 Februari 2015
Di perjalanan menuju Pantai Kukup kita mampir di toko oleh-oleh yg menjual makanan khas Gunung Kidul, yaitu Gathot dan Thiwul Yu Tum. Baik Gathot maupun Thiwul bahan dasarnya adalah singkong yg dijadikan gaplek.
Thiwul itu dari gaplek yg ditumbuk dijadikan seperti tepung lalu diolah menjadi seperti bolu tapi teksturnya kasar. Warnanya kecoklatan. Rasanya kalau dimakan seperti berbiji-biji atau berbutir-butir di lidah. Waktu saya ke sana, ada 2 macam thiwul, yaitu Thiwul Tumpeng dan Thiwul Coblong. Thiwul Coblong rasanya lebih manis karena diberi gula aren.
Thiwul Tumpeng
Thiwul Coblong - yg bolong-bolong coklat itu gula aren
Gathot yg artinya "gagal total" sebetulnya adalah gaplek yg gagal sehingga mengalami proses fermentasi sehingga warnanya hitam kecoklatan, kenyal-kenyal, lengket-lengket dan rasanya agak asam-asam gitu.
Kalau beli satu porsi dalam besek yg dialasi daun pisang, isinya thiwul tumpeng separuh, gathot, dan kelapa parut. Enaknya dimakan selagi hangat, karena kalau sudah dingin, thiwulnya agak keras. Ternyata tidak semua orang cocok makan thiwul, banyak yg merasa aneh, apalagi gathot yg warnanya hitam lengket-lengket gitu.
Selain menjual thiwul dan gathot, Yu Tum juga jual gethuk goreng dan aneka snack / camilan, gula jahe dan tepung thiwul.
Boleh dicoba nih kuliner Gunung Kidul.
more photos Album Java Trip
to be continued
next posting : Pantai Kukup
rgds,
Lucy
Di perjalanan menuju Pantai Kukup kita mampir di toko oleh-oleh yg menjual makanan khas Gunung Kidul, yaitu Gathot dan Thiwul Yu Tum. Baik Gathot maupun Thiwul bahan dasarnya adalah singkong yg dijadikan gaplek.
Thiwul itu dari gaplek yg ditumbuk dijadikan seperti tepung lalu diolah menjadi seperti bolu tapi teksturnya kasar. Warnanya kecoklatan. Rasanya kalau dimakan seperti berbiji-biji atau berbutir-butir di lidah. Waktu saya ke sana, ada 2 macam thiwul, yaitu Thiwul Tumpeng dan Thiwul Coblong. Thiwul Coblong rasanya lebih manis karena diberi gula aren.
Thiwul Tumpeng
Thiwul Coblong - yg bolong-bolong coklat itu gula aren
Gathot yg artinya "gagal total" sebetulnya adalah gaplek yg gagal sehingga mengalami proses fermentasi sehingga warnanya hitam kecoklatan, kenyal-kenyal, lengket-lengket dan rasanya agak asam-asam gitu.
Kalau beli satu porsi dalam besek yg dialasi daun pisang, isinya thiwul tumpeng separuh, gathot, dan kelapa parut. Enaknya dimakan selagi hangat, karena kalau sudah dingin, thiwulnya agak keras. Ternyata tidak semua orang cocok makan thiwul, banyak yg merasa aneh, apalagi gathot yg warnanya hitam lengket-lengket gitu.
Selain menjual thiwul dan gathot, Yu Tum juga jual gethuk goreng dan aneka snack / camilan, gula jahe dan tepung thiwul.
Boleh dicoba nih kuliner Gunung Kidul.
more photos Album Java Trip
to be continued
next posting : Pantai Kukup
rgds,
Lucy
Subscribe to:
Posts (Atom)
























