Air Terjun Cikaso, Sukabumi
8 September 2013
Dari Amanda Ratu ke Air Terjun Cikaso sekitar 30 menit. Air Terjun Cikaso atau Curug Cikaso bisa dibilang istimewa sebab terdiri dari 3 air terjun di satu lokasi. Untuk menuju ke air terjunnya, kita bisa trekking alias jalan kaki, bisa juga naik perahu. Tentu saja kita pilih yang naik perahu yg lebih cepat sampai daripada berjam-jam jalan kaki di jalan setapak dan berbatu-batu.
Untung cuaca cerah dan musim panas, jadinya air sungai yg kita lalui warnanya hijau. Kalau hujan, apalagi banjir, air sungai jadi coklat, seperti tahun lalu waktu saya ke Green Canyon.
Kita naik 2 perahu. Jaraknya tidak jauh, jadi hanya sebentar berperahu, sampailah kita di jalan yg menuju ke air terjun. Wah ... ternyata di situ sudah ramai pengunjung. Air terjunnya bagus tapi karena musim kemarau, airnya tidak terlalu banyak dan tidak deras, apalagi air terjun yg ketiga, aliran airnya kecil dan sedikit. Kalau bulan depan ke sini, maka air terjunnya makin kecil karena airnya makin habis.
Kita dikasih waktu 30 menit untuk foto-foto. Wah ... panas terik, foto-foto sampai berkuah keringat. Kalau sudah capek dan kegerahan, ngaso dulu di bawah pohon yg rindang. Kayaknya di group kita tidak ada yg mandi-mandi di air terjun, semua narsis habis ... foto-foto doang.
Setelah foto-foto, kita naik perahu lagi untuk berkumpul makan siang. Ada beberapa warung yg jual makanan dan minuman. Ada karedok, mie instant, gorengan, kopi dll. Kita makan siang di sebuah warung makanan dan minuman langganan Sunburst kayaknya, soalnya si Denny dan Tante Lina sudah akrab bener sama pemilik warung. Menu makan siang kita adalah nasi box yg dimasak oleh Tante Lina tadi pagi. Hebat euy! Minumnya bisa pesan di warung.
Sudah kenyang, langsung naik ke bus dan perjalanan panjang pulang ke Jakarta dimulai. Tidak pakai mampir-mampir, hanya berhenti di pompa bensin untuk ke toilet beberapa kali. Makan malam kita adalah nasi bungkus yg dimasak oleh Tante Lina juga. Masuk di Sentul sudah jam 9 malam, dan Liendha turun di situ. Masuk Jakarta sudah jam 10 malam. Tante saya dan beberapa peserta lain turun di UKI Cawang. Tiba Mal Taman Anggrek sekitar jam 11 malam sebab tol dalam kota sangat macet. Saya sampai di rumah jam 12 malam. Wah ... capeknya. Untung sudah kenyang tidur di bis. Besok pagi harus bangun jam 5 dan kerja.
2 Days 1 Night !
rgds,
Lucy
Welcome to v1olet Blog
All photos, unless I mention and credit the source, are my personal photo stocks. If you like my photos and would like to use them, please ask by writing your comment.
Showing posts with label Ujung Genteng Jawa Barat. Show all posts
Showing posts with label Ujung Genteng Jawa Barat. Show all posts
Tuesday, October 15, 2013
Tuesday, October 08, 2013
Travel : Ujung Genteng Trip - Amanda Ratu
Amanda Ratu, Sukabumi
8 September 2013
Kalau Bali punya Tanah Lot, maka Sukabumi punya Amanda Ratu. Batu karangnya mirip di Tanah Lot. Dari Ujung Genteng ke Amanda Ratu kira-kira 30 menit. Saya kira tuh bisa turun ke bawah untuk main-main air, ternyata waktu yg diberikan untuk foto-foto sangat singkat, cuma 20 menit. Buset deh ... mana puas foto-foto cuma sekejap. Ternyata di Amanda Ratu ada cottage juga, so kalau mau menginap di sini juga bisa.
Sudah lewat dari jam 10 pagi, sinar matahari sudah galak dan panas terik pula ... silau dan gerah deh. Tapi tetap semangat foto-foto.
With my mom.
Berdelapan
Yg foto dan difoto sama-sama gaya he he he ...
Smile ...
Sunburst Adventure
Belum puas foto-foto, kita sudah dipanggil untuk naik bis melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Cikaso.
Next Posting : Air Terjun Cikaso
rgds,
Lucy
8 September 2013
Kalau Bali punya Tanah Lot, maka Sukabumi punya Amanda Ratu. Batu karangnya mirip di Tanah Lot. Dari Ujung Genteng ke Amanda Ratu kira-kira 30 menit. Saya kira tuh bisa turun ke bawah untuk main-main air, ternyata waktu yg diberikan untuk foto-foto sangat singkat, cuma 20 menit. Buset deh ... mana puas foto-foto cuma sekejap. Ternyata di Amanda Ratu ada cottage juga, so kalau mau menginap di sini juga bisa.
Sudah lewat dari jam 10 pagi, sinar matahari sudah galak dan panas terik pula ... silau dan gerah deh. Tapi tetap semangat foto-foto.
With my mom.
Berdelapan
Smile ...
Sunburst Adventure
Belum puas foto-foto, kita sudah dipanggil untuk naik bis melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Cikaso.
Next Posting : Air Terjun Cikaso
rgds,
Lucy
Saturday, October 05, 2013
Travel : Ujung Genteng Trip - Pantai Ujung Genteng dan Pondok Hexa
Pantai Ujung Genteng
8 September 2013
Bagus gak Ujung Genteng ? Begitu pertanyaan teman-teman saya. Kata orang, bagus enggaknya tergantung mata yang melihat.
Dari mata fotografer, pantai ini sih bagus, apalagi untuk foto sunset, sebab lokasinya di sebelah Barat. Ada batu karang dan lumut yang bagus buat foreground. Sayangnya kemarin saya kelewatan moment foto sunset.
Dari mata wisatawan, pantai ini masih bagus karena pasirnya putih dan agak besar-besar, airnya bening dan dingin, ombaknya tidak terlalu besar sebab sudah tertahan karang-karang yg agak di tengah. Cocok buat berendam dan main air. Kalau mau berenang juga boleh. Tapi karena pasirnya besar-besar dan kasar, kalau tidak pakai sendal, tapak kaki kita rada sakit. Pantai di sini lumayan bersih, relatif tidak ada sampah bertebaran dan tidak ada orang jualan. Yg jualan di pinggir jalan saja, tidak sampai turun ke pantai.
Pagi ini saya bagun jam 5 dan gak bisa tidur lagi. Tahu begini, saya OK kan ajakan tukang ojek untuk foto sunrise he he he ... Akhirnya saya putuskan untuk bangun dan jalan-jalan sendiri sambil motret sebisanya di Pantai Ujung Genteng di depan penginapan. Foto-foto di atas adalah hasilnya.
Sewaktu saya masih foto-foto, Liendha menyusul dan ngajak sarapan. Sarapan kita adalah nasi uduk dengan sambel kacang plus kerupuk. Setelah sarapan, saya mau main air di pantai sambil foto-foto narsis. Begitu sampai di pantai, saya lihat tante saya sudah nyemplung di air dan ngajakin saya join nyemplung. Cannot tahan ... saya ikutan nyemplung deh ... asik, dingin, dan segar. Tak lama kemudian, sepupu saya datang ke pantai, tujuannya mau pinjam kunci kamar, eh ... akhirnya ikutan nyemplung. Jadinya kita bertiga main air.
Yang sudah mandi, tidak berani dekat-dekat air ... duduk-duduk saja, makan angin pantai.
Tidak bisa terlalu lama main air karena musti check out pagi ini untuk melanjutkan perjalanan ke Amanda Ratu dan Air Terjun Cikaso.
Pondok Hexa
Oya sedikit tentang penginapan kita yg namanya Pondok Hexa. Bentuknya seperti rumah-rumah yang terdiri dari beberapa kamar. Tiap kamar ada pintu yg menghadap ke luar dan ada connecting door ke ruang tengah. Jadi bisa disewa individual, bisa juga sebagai satu rumah. Kamar saya paling depan, jadi bisa langsung menghadap ke jalan dan pantai.
Bangunannya agak tua, tapi sebagian sudah direnovasi. Herannya hampir tiap kamar, pintu kamar mandinya rusak dan tidak bisa dikunci. Untungnya kita saling menghormati sehingga walaupun pintu kamar mandi tidak dikunci, dan hanya ditutup/terbuka sedikit, kita tidak ngintip atau buka pintu sembarangan he he he ... Sepertinya Pondok Hexa perlu perbaikan pintu-pintu. Di sini juga ada kolam renang yg lumayan bagus. Jadi yg tidak mau berenang di pantai, bisa renang di kolam.
Jam 9.30 kita meninggalkan Pondok Hexa, menuju ke Amanda Ratu.
Next Posting : Amanda Ratu
rgds,
Lucy
8 September 2013
Bagus gak Ujung Genteng ? Begitu pertanyaan teman-teman saya. Kata orang, bagus enggaknya tergantung mata yang melihat.
Dari mata fotografer, pantai ini sih bagus, apalagi untuk foto sunset, sebab lokasinya di sebelah Barat. Ada batu karang dan lumut yang bagus buat foreground. Sayangnya kemarin saya kelewatan moment foto sunset.
Dari mata wisatawan, pantai ini masih bagus karena pasirnya putih dan agak besar-besar, airnya bening dan dingin, ombaknya tidak terlalu besar sebab sudah tertahan karang-karang yg agak di tengah. Cocok buat berendam dan main air. Kalau mau berenang juga boleh. Tapi karena pasirnya besar-besar dan kasar, kalau tidak pakai sendal, tapak kaki kita rada sakit. Pantai di sini lumayan bersih, relatif tidak ada sampah bertebaran dan tidak ada orang jualan. Yg jualan di pinggir jalan saja, tidak sampai turun ke pantai.
Pagi ini saya bagun jam 5 dan gak bisa tidur lagi. Tahu begini, saya OK kan ajakan tukang ojek untuk foto sunrise he he he ... Akhirnya saya putuskan untuk bangun dan jalan-jalan sendiri sambil motret sebisanya di Pantai Ujung Genteng di depan penginapan. Foto-foto di atas adalah hasilnya.
Sewaktu saya masih foto-foto, Liendha menyusul dan ngajak sarapan. Sarapan kita adalah nasi uduk dengan sambel kacang plus kerupuk. Setelah sarapan, saya mau main air di pantai sambil foto-foto narsis. Begitu sampai di pantai, saya lihat tante saya sudah nyemplung di air dan ngajakin saya join nyemplung. Cannot tahan ... saya ikutan nyemplung deh ... asik, dingin, dan segar. Tak lama kemudian, sepupu saya datang ke pantai, tujuannya mau pinjam kunci kamar, eh ... akhirnya ikutan nyemplung. Jadinya kita bertiga main air.
Yang sudah mandi, tidak berani dekat-dekat air ... duduk-duduk saja, makan angin pantai.
Tidak bisa terlalu lama main air karena musti check out pagi ini untuk melanjutkan perjalanan ke Amanda Ratu dan Air Terjun Cikaso.
Pondok Hexa
Oya sedikit tentang penginapan kita yg namanya Pondok Hexa. Bentuknya seperti rumah-rumah yang terdiri dari beberapa kamar. Tiap kamar ada pintu yg menghadap ke luar dan ada connecting door ke ruang tengah. Jadi bisa disewa individual, bisa juga sebagai satu rumah. Kamar saya paling depan, jadi bisa langsung menghadap ke jalan dan pantai.
Bangunannya agak tua, tapi sebagian sudah direnovasi. Herannya hampir tiap kamar, pintu kamar mandinya rusak dan tidak bisa dikunci. Untungnya kita saling menghormati sehingga walaupun pintu kamar mandi tidak dikunci, dan hanya ditutup/terbuka sedikit, kita tidak ngintip atau buka pintu sembarangan he he he ... Sepertinya Pondok Hexa perlu perbaikan pintu-pintu. Di sini juga ada kolam renang yg lumayan bagus. Jadi yg tidak mau berenang di pantai, bisa renang di kolam.
Jam 9.30 kita meninggalkan Pondok Hexa, menuju ke Amanda Ratu.
Next Posting : Amanda Ratu
rgds,
Lucy
Tuesday, September 24, 2013
Travel : Ujung Genteng Trip - Penyu Bertelur di Pantai Pangumbahan
Ujung Genteng Trip - Penyu Bertelur di Pantai Pangumbahan
7 September 2013
Apa beda penyu dan kura-kura ? Penyu hidup di laut dan bentuk kaki dan tangannya rata seperti dayung dan tidak berkuku. Kura-kura hidup di darat dan kaki dan tangannya berkuku.
Di Pantai Pangumbahan ada 4 Pos lokasi penyu bertelur. Masing-masing ada petugasnya dan mereka bekerja dalam gelap. Mereka menggunakan radio HT untuk komunikasi. Suasana di tiap pos diusahakan sepi dan gelap supaya penyu mau datang bertelur. Juga dijaga supaya tidak ada babi hutan, sebab kalau ada babi hutan, penyu tak jadi bertelur. Tapi predator utama yg suka mengambil telur penyu adalah manusia. Penyu bisa bertelur dalam hujan, asal tidak banyak petir.
Penyu yg datang bertelur di Pantai Pangumbahan adalah Penyu Hijau, Penyu Sisik, dan Penyu Lekang. Mayoritas adalah Penyu Hijau. Penyu mulai bertelur pada usia 28 tahun. Dia akan bertelur sebanyak 7 kali, setelah itu dia akan menghilang selama 4 tahun. Setelah itu akan bertelur lagi sebanyak 7 kali, dst. Usia penyu bisa ratusan tahun.
Telur penyu bentuknya seperti bola pingpong. Kulit telurnya elastis bisa penyok-penyok tapi tidak pecah. Banyak orang makan telur penyu untuk menambah tenaga dan vitalitas. Kalau direbus, telur tidak mengeras, tetap elastis penyok-penyok. Putih telurnya tidak bisa keras, tapi tetap cair seperti ingus. Kuning telurnya besar dan creamy. Rasanya amis, lebih amis dari telur ayam atau telur bebek atau lainnya.
Pada waktu kita tiba di sana, kita belum boleh melihat penyu bertelur. Kita disuruh menunggu sambil melihat telur penyu menetas. Ada 2 cara menetaskan telur penyu, yaitu cara alami dan semi alami. Cara alami adalah tanpa memindahkan telur-telur dari sarang yg dibuat induknya. Setelah menimbun telurnya, sang induk akan meninggalkan sarangnya dan kembali ke laut. Petugas akan datang memasang pagar bambu di sekitar sarang dan memberi identitas sarang tsb. Tujuannya untuk melindungi telur agar tidak dimakan binatang lain misalnya babi hutan. Selain itu supaya tukik yg menetas tidak keluar dari pagar, tapi berkumpul di dalam pagar.
Cara semi alami adalah dengan memindahkan telur-telur penyu dari sarang yg dibuat induknya ke sarang baru di lokasi konservasi. Lubang itu di pasir sedalam 60 cm dan dibuat berjejer berdasar waktu bertelur. Tidak dicampur dengan telur dari induk lain. Lubang tsb juga dipasang pagar kawat dan diberi identitas berupa tanggal bertelur dan jumlah telur. Telur yg dimasukkan ke situ tidak boleh ditaruh sembarangan atau dibolak-balik, tapi diambil sesuai posisinya di lubang asalnya. Petugasnya sudah terlatih, sekali ambil 5 butir telur, dijepit di tangannya. Seekor induk penyu bisa bertelur sampai seratus butir lebih. Saat ini lebih banyak cara semi alami yg dipakai karena lebih tinggi tingkat keberhasilannya, lagi pula bisa mengatur jenis kelamin tukik.
Petugas mulai berjaga di lubang semi alami sejak senja sampai jam 6 pagi esok hari. Telur penyu menetas sekitar 2 bulan. Telur-telur itu menetas di dalam lubang dan awalnya terlihat ada kepala penyu sekitar 2 atau 3 bergerak-gerak lambat. Warnanya hitam nongol di pasir putih. Tapi kalau kita tidak perhatikan sebentar saja, tahu-tahu sudah banyak tukik berkerayapan di kandang kawat. Rupanya yg tadi nongol adalah yg paling atas, dan mereka didorong-dorong oleh saudara-saudaranya dari bawah sampai akhirnya mereka semua keluar dari lubang pasir. Petugas datang mengambil tukik-tukik yg baru menetas itu, dihitung dan dicatat di cagak bambu identitas lubang.
Bagaimana kita bisa tahu jenis kelamin tukik ? Kata petugas, dari suhunya. Saya dan sepupu saya langsung terbayang pak petugas mengukur suhu di ketiak tukik. Tapi ternyata bukan suhu badan tukik, tapi suhu pasir di lubang/sarangnya. Jika suhu pasir 35 derajat Celcius ke atas, kemungkinan besar tukik yg menetas adalah betina. Jika suhu pasirnya 30 derajat Celcius ke bawah, kemungkinan jantan. Makanya lubang untuk tukik jantan terletak di pasir yg adem, di bawah pohon. Tentu saja jumlah lubang untuk yg betina lebih banyak daripada yg jantan. Dengan demikian konvervasi bisa mengatur jenis kelamin tukik.
Tukik yg lahir malam ini akan dilepas di pantai besok sore.
Bolehkah memegang anak tukik yg baru lahir ? Boleh kok, asal kita pegang ketiaknya. Waktu saya pegang keteknya, tangannya meronta-ronta dan terasa tenaganya sangat kuat. Perkasa juga nih .. tadi sudah latihan boxing dorong-dorongan sampai berhasil keluar dari liang pasir.
Malam itu ada 4 ekor penyu yg datang ke Pantai Pangumbahan untuk bertelur. Tapi mereka datangnya tidak berbarengan. Saat penyu pertama dan kedua sedang membuat sarangnya, penyu ketiga dan keempat datang. Kalau kita nonton penyu pertama dan kedua bertelur, maka penyu ketiga dan keempat tidak jadi bertelur dan akan kembali ke laut. Jadi kita akan nonton penyu ketiga dan keempat setelah mereka bertelur sekitar 30 butir. Mengapa setelah kira-kira 30 butir ? Kalau mereka baru buat sarang tapi kita sudah nontonin, mereka tidak jadi bertelur. Tapi kalau sudah terlanjur bertelur, dia pikir "Ah ... udah terlanjur ... lanjutkan saja."
Jam berapa kita menonton penyu bertelur ? Lewat dari jam 24:00 alias jam 12 malam lebih. Kita hampir pengen pulang saja sebab capek, ngantuk, dan dingin. Takut besok gak bisa bangun. Ternyata lama banget penyu bikin sarang. Akhirnya kita jalan beriringan menuju pantai tanpa boleh menyalakan senter, apalagi menyorot senter ke laut. Penyu itu ternyata besar sekali, panjangnya lebih dari 1 meter, kira-kira 1,1 meter - 1.25 meter. Kita tidak boleh nonton dari depan atau dari samping, tapi harus dari belakang. Pantai gelap gulita. Ada petugas yg mengatur kita dan hanya senter dari petugas yg boleh menyorot. Terlihat penyu mengeluarkan telur-telurnya. Kita diberi kesempatan memotret bergantian, setelah itu kita disuruh kembali ke konservasi. Menunggu berjam-jam, menontonnya kurang dari 5 menit. Memang harus sabar.
Saat kembali ke konservasi, ada petugas yg membawa seember telur penyu dari induk pertama dan kedua yg sudah lebih dulu bertelur.
Kita naik ojek lagi menembus dinginnya malam kembali ke penginapan. Saya lapar, jadi saya gedor kamar mama saya untuk minta roti. Saya makan roti dulu, minum tolak angin, baru cuci muka dan gosok gigi, lalu tidur. Capek banget.
Sebetulnya tukang ojek menawarkan untuk melihat sunrise di Pantai Timur dekat Pelelangan Ikan besok pagi. Sunset diperkirakan sekitar jam 5 pagi. Jadi tukang ojek akan jemput sebelum itu. Tapi saya ragu bisa bangun jam segitu, karena hari ini terlalu capek. Jadi saya tolak ide itu, yg belakangan saya sesali. Sudah gak dapat foto sunset, gak dapat foto sunrise pula. Satu alasan mengapa saya harus kembali lagi ke sini suatu hari .... ha ha ha ....
Next Posting :
Pantai Ujung Genteng dan Pondok Hexa
rgds,
Lucy
7 September 2013
Apa beda penyu dan kura-kura ? Penyu hidup di laut dan bentuk kaki dan tangannya rata seperti dayung dan tidak berkuku. Kura-kura hidup di darat dan kaki dan tangannya berkuku.
Di Pantai Pangumbahan ada 4 Pos lokasi penyu bertelur. Masing-masing ada petugasnya dan mereka bekerja dalam gelap. Mereka menggunakan radio HT untuk komunikasi. Suasana di tiap pos diusahakan sepi dan gelap supaya penyu mau datang bertelur. Juga dijaga supaya tidak ada babi hutan, sebab kalau ada babi hutan, penyu tak jadi bertelur. Tapi predator utama yg suka mengambil telur penyu adalah manusia. Penyu bisa bertelur dalam hujan, asal tidak banyak petir.
Penyu yg datang bertelur di Pantai Pangumbahan adalah Penyu Hijau, Penyu Sisik, dan Penyu Lekang. Mayoritas adalah Penyu Hijau. Penyu mulai bertelur pada usia 28 tahun. Dia akan bertelur sebanyak 7 kali, setelah itu dia akan menghilang selama 4 tahun. Setelah itu akan bertelur lagi sebanyak 7 kali, dst. Usia penyu bisa ratusan tahun.
Telur penyu bentuknya seperti bola pingpong. Kulit telurnya elastis bisa penyok-penyok tapi tidak pecah. Banyak orang makan telur penyu untuk menambah tenaga dan vitalitas. Kalau direbus, telur tidak mengeras, tetap elastis penyok-penyok. Putih telurnya tidak bisa keras, tapi tetap cair seperti ingus. Kuning telurnya besar dan creamy. Rasanya amis, lebih amis dari telur ayam atau telur bebek atau lainnya.
Pada waktu kita tiba di sana, kita belum boleh melihat penyu bertelur. Kita disuruh menunggu sambil melihat telur penyu menetas. Ada 2 cara menetaskan telur penyu, yaitu cara alami dan semi alami. Cara alami adalah tanpa memindahkan telur-telur dari sarang yg dibuat induknya. Setelah menimbun telurnya, sang induk akan meninggalkan sarangnya dan kembali ke laut. Petugas akan datang memasang pagar bambu di sekitar sarang dan memberi identitas sarang tsb. Tujuannya untuk melindungi telur agar tidak dimakan binatang lain misalnya babi hutan. Selain itu supaya tukik yg menetas tidak keluar dari pagar, tapi berkumpul di dalam pagar.
Cara semi alami adalah dengan memindahkan telur-telur penyu dari sarang yg dibuat induknya ke sarang baru di lokasi konservasi. Lubang itu di pasir sedalam 60 cm dan dibuat berjejer berdasar waktu bertelur. Tidak dicampur dengan telur dari induk lain. Lubang tsb juga dipasang pagar kawat dan diberi identitas berupa tanggal bertelur dan jumlah telur. Telur yg dimasukkan ke situ tidak boleh ditaruh sembarangan atau dibolak-balik, tapi diambil sesuai posisinya di lubang asalnya. Petugasnya sudah terlatih, sekali ambil 5 butir telur, dijepit di tangannya. Seekor induk penyu bisa bertelur sampai seratus butir lebih. Saat ini lebih banyak cara semi alami yg dipakai karena lebih tinggi tingkat keberhasilannya, lagi pula bisa mengatur jenis kelamin tukik.
Petugas mulai berjaga di lubang semi alami sejak senja sampai jam 6 pagi esok hari. Telur penyu menetas sekitar 2 bulan. Telur-telur itu menetas di dalam lubang dan awalnya terlihat ada kepala penyu sekitar 2 atau 3 bergerak-gerak lambat. Warnanya hitam nongol di pasir putih. Tapi kalau kita tidak perhatikan sebentar saja, tahu-tahu sudah banyak tukik berkerayapan di kandang kawat. Rupanya yg tadi nongol adalah yg paling atas, dan mereka didorong-dorong oleh saudara-saudaranya dari bawah sampai akhirnya mereka semua keluar dari lubang pasir. Petugas datang mengambil tukik-tukik yg baru menetas itu, dihitung dan dicatat di cagak bambu identitas lubang.
Bagaimana kita bisa tahu jenis kelamin tukik ? Kata petugas, dari suhunya. Saya dan sepupu saya langsung terbayang pak petugas mengukur suhu di ketiak tukik. Tapi ternyata bukan suhu badan tukik, tapi suhu pasir di lubang/sarangnya. Jika suhu pasir 35 derajat Celcius ke atas, kemungkinan besar tukik yg menetas adalah betina. Jika suhu pasirnya 30 derajat Celcius ke bawah, kemungkinan jantan. Makanya lubang untuk tukik jantan terletak di pasir yg adem, di bawah pohon. Tentu saja jumlah lubang untuk yg betina lebih banyak daripada yg jantan. Dengan demikian konvervasi bisa mengatur jenis kelamin tukik.
Tukik yg lahir malam ini akan dilepas di pantai besok sore.
Bolehkah memegang anak tukik yg baru lahir ? Boleh kok, asal kita pegang ketiaknya. Waktu saya pegang keteknya, tangannya meronta-ronta dan terasa tenaganya sangat kuat. Perkasa juga nih .. tadi sudah latihan boxing dorong-dorongan sampai berhasil keluar dari liang pasir.
Malam itu ada 4 ekor penyu yg datang ke Pantai Pangumbahan untuk bertelur. Tapi mereka datangnya tidak berbarengan. Saat penyu pertama dan kedua sedang membuat sarangnya, penyu ketiga dan keempat datang. Kalau kita nonton penyu pertama dan kedua bertelur, maka penyu ketiga dan keempat tidak jadi bertelur dan akan kembali ke laut. Jadi kita akan nonton penyu ketiga dan keempat setelah mereka bertelur sekitar 30 butir. Mengapa setelah kira-kira 30 butir ? Kalau mereka baru buat sarang tapi kita sudah nontonin, mereka tidak jadi bertelur. Tapi kalau sudah terlanjur bertelur, dia pikir "Ah ... udah terlanjur ... lanjutkan saja."
Jam berapa kita menonton penyu bertelur ? Lewat dari jam 24:00 alias jam 12 malam lebih. Kita hampir pengen pulang saja sebab capek, ngantuk, dan dingin. Takut besok gak bisa bangun. Ternyata lama banget penyu bikin sarang. Akhirnya kita jalan beriringan menuju pantai tanpa boleh menyalakan senter, apalagi menyorot senter ke laut. Penyu itu ternyata besar sekali, panjangnya lebih dari 1 meter, kira-kira 1,1 meter - 1.25 meter. Kita tidak boleh nonton dari depan atau dari samping, tapi harus dari belakang. Pantai gelap gulita. Ada petugas yg mengatur kita dan hanya senter dari petugas yg boleh menyorot. Terlihat penyu mengeluarkan telur-telurnya. Kita diberi kesempatan memotret bergantian, setelah itu kita disuruh kembali ke konservasi. Menunggu berjam-jam, menontonnya kurang dari 5 menit. Memang harus sabar.
Saat kembali ke konservasi, ada petugas yg membawa seember telur penyu dari induk pertama dan kedua yg sudah lebih dulu bertelur.
Kita naik ojek lagi menembus dinginnya malam kembali ke penginapan. Saya lapar, jadi saya gedor kamar mama saya untuk minta roti. Saya makan roti dulu, minum tolak angin, baru cuci muka dan gosok gigi, lalu tidur. Capek banget.
Sebetulnya tukang ojek menawarkan untuk melihat sunrise di Pantai Timur dekat Pelelangan Ikan besok pagi. Sunset diperkirakan sekitar jam 5 pagi. Jadi tukang ojek akan jemput sebelum itu. Tapi saya ragu bisa bangun jam segitu, karena hari ini terlalu capek. Jadi saya tolak ide itu, yg belakangan saya sesali. Sudah gak dapat foto sunset, gak dapat foto sunrise pula. Satu alasan mengapa saya harus kembali lagi ke sini suatu hari .... ha ha ha ....
Next Posting :
Pantai Ujung Genteng dan Pondok Hexa
rgds,
Lucy
Sunday, September 22, 2013
Travel : Ujung Genteng Trip - Melepas Tukik di Pantai Pangumbahan
Ujung Genteng Trip : Pantai Pangumbahan - Melepas Tukik
7 September 2013
Naik Ojek dari Pantai Cipanarikan ke Pantai Pangumbahan sekitar 10 menit Offroad. Pantai Pangumbahan itu adalah lokasi konservasi penyu. Saat itu menjelang sunset, tukik atau anak penyu sudah ditaruh di beberapa ember dan siap dilepas. Gerbang sudah ditutup dan kita disuruh buru-buru menuju kumpulan penonton di tepi pantai. Pemandangan pantai sangat indah, hari sudah orange keemasan.
Tukik di ember, siap dilepas ke pantai
Petugas mulai membawa ember-ember berisi tukik yg katanya berjumlah 700 ekor yg menetas tadi malam, dan menumpahkan isi ember di pasir yg jaraknya lumayan jauh dari air pantai. Mengapa dilepas di pasir, bukan langsung di air pantai ? Itu supaya anak tukik bisa merekam jejak-jejaknya di Pantai Pangumbahan itu. Believe it or not, 28 tahun kemudian mereka akan kembali ke Pantai Pangumbahan ini untuk bertelur. Hebat bukan ... anak tukik yg menetas dari telur tadi malam, jadi umurnya belum genap 1 hari, bisa mengingat jalan untuk pulang ke pantai kelahirannya kalau nanti sudah dewasa. Mengetahui fakta ini, membuat saya berpikir tentang keagungan Allah yg menciptakan alam semesta dan isinya yg begitu unik.
Tersapu ombak ... Berjuang untuk keluar dari lubang jejak kaki kita ...
Usaha dan perjuangan tukik ini dimulai sekarang .... dari pasir ke air saja sudah susah. Terseok-seok, disapu ombak, terbawa ke pasir lagi, bahkan ada yg sampai terbalik .... Ini baru di pantai, apalagi setelah mereka berhasil berenang di laut, kehidupan mereka terancam banyak bahaya. Bahaya gelombang laut, dan yg terutama dari serangan predator. Menurut data, dari 700 ekor yg dilepas hari ini, persentase mereka kembali ke Pantai Pangumbahan adalah sekitar 5% saja bahkan kurang dari itu. Mereka mengarungi laut dan samudera bahkan ada yg sampai ditemukan di Pantai Amerika. Tapi pada waktunya mereka akan kembali ke sini.
Tukik terbalik ... gak boleh ditolongin, harus bisa tengkurap sendiri :)
Oya ada kejadian menyebalkan saat saya motret pelepasan anak tukik. Saat lagi motret, tangan saya kena selomot rokok seorang cowo gendut yg motret pakai kamera HP sambil merokok. Saat ada ombak, dia takut basah, jadi loncat-loncat dan rokoknya kena tangan saya. Setelah saya menjerit dan ngomel2, baru dia minta maaf. Rese tuh orang, kalo mau motret ya motret, kalo mau merokok, jangan motret, minggir sono ... baru kena ombak aja udah loncat-loncat. Kalo takut basah, jangan ke pantai, ke gunung aja ....
Sunset di Pantai Pangumbahan ini sebetulnya cukup bagus untuk foto-foto, tapi kita sudah diusir oleh petugas karena ombak cukup besar. Yg lebih penting lagi, karena begitu gelap, penyu dewasa yg akan bertelur akan segera datang. Jika suasana pantai ramai, banyak orang, dan ada cahaya, mereka tidak jadi datang. Mereka akan berenang lagi ke laut hingga suasana pantai kondusif.
Nanti malam saya dan teman-teman akan kembali ke sini lagi untuk melihat telur penyu menetas dan melihat penyu bertelur.
Dari Pantai Pangumbahan ke penginapan sekitar 20 menit naik ojek yg tadi. Kita melewati pantai yg banyak orang surfing. Maksud hati ingin minta berhenti di situ untuk motret blue hour, tapi tidak kesampean. Padahal pantainya cantik.
Pantai Ujung Genteng di depan penginapan sebetulnya bagus untuk foto sunset, dan foregroundnya bagus juga ... ada batu-batu karang dan lumut. Dan sunset memang terlihat di situ (Pantai Barat). Tapi begitu saya tiba di sana, hari sudah gelap. Golden sunset sudah lewat, blue hour juga sudah lewat ...
Saya sekamar dengan Liendha. Lokasi kamar kita di paling depan. Ada connecting door ke aula tempat kita makan malam. Setelah mandi, kita ke aula untuk BBQ. Denny dan Ibu Lina yg mempersiapkan BBQ alias bakar-bakaran. Juga ada bakso kuah. Makan malam kita lumayan OK dan berlimpah, boleh nambah sampai puas.
Denny mendata siapa yg mau melihat penyu bertelur. Ini acara optional, dengan membayar ongkos ojek Rp 35.000/pax dan sumbangan ongkos masuk ke konservasi penyu. Dari group saya, semua ikut kecuali mama saya yg perutnya sakit. Kita menunggu di kamar masing-masing. Kalau penyu sudah datang dan mulai buat sarang di pasir, kita akan dijemput tukang ojek. Sekitar jam 8 malam, kamar kita digedor oleh Denny dan tukang ojek sudah berjajar manis di halaman. Kita nyemplak di motor dan offroad ke Pantai Pangumbahan.
next posting :
Pantai Pangumbahan - Penyu Bertelur
rgds,
Lucy
7 September 2013
Naik Ojek dari Pantai Cipanarikan ke Pantai Pangumbahan sekitar 10 menit Offroad. Pantai Pangumbahan itu adalah lokasi konservasi penyu. Saat itu menjelang sunset, tukik atau anak penyu sudah ditaruh di beberapa ember dan siap dilepas. Gerbang sudah ditutup dan kita disuruh buru-buru menuju kumpulan penonton di tepi pantai. Pemandangan pantai sangat indah, hari sudah orange keemasan.
Tukik di ember, siap dilepas ke pantai
Petugas mulai membawa ember-ember berisi tukik yg katanya berjumlah 700 ekor yg menetas tadi malam, dan menumpahkan isi ember di pasir yg jaraknya lumayan jauh dari air pantai. Mengapa dilepas di pasir, bukan langsung di air pantai ? Itu supaya anak tukik bisa merekam jejak-jejaknya di Pantai Pangumbahan itu. Believe it or not, 28 tahun kemudian mereka akan kembali ke Pantai Pangumbahan ini untuk bertelur. Hebat bukan ... anak tukik yg menetas dari telur tadi malam, jadi umurnya belum genap 1 hari, bisa mengingat jalan untuk pulang ke pantai kelahirannya kalau nanti sudah dewasa. Mengetahui fakta ini, membuat saya berpikir tentang keagungan Allah yg menciptakan alam semesta dan isinya yg begitu unik.
Tersapu ombak ... Berjuang untuk keluar dari lubang jejak kaki kita ...
Usaha dan perjuangan tukik ini dimulai sekarang .... dari pasir ke air saja sudah susah. Terseok-seok, disapu ombak, terbawa ke pasir lagi, bahkan ada yg sampai terbalik .... Ini baru di pantai, apalagi setelah mereka berhasil berenang di laut, kehidupan mereka terancam banyak bahaya. Bahaya gelombang laut, dan yg terutama dari serangan predator. Menurut data, dari 700 ekor yg dilepas hari ini, persentase mereka kembali ke Pantai Pangumbahan adalah sekitar 5% saja bahkan kurang dari itu. Mereka mengarungi laut dan samudera bahkan ada yg sampai ditemukan di Pantai Amerika. Tapi pada waktunya mereka akan kembali ke sini.
Tukik terbalik ... gak boleh ditolongin, harus bisa tengkurap sendiri :)
Oya ada kejadian menyebalkan saat saya motret pelepasan anak tukik. Saat lagi motret, tangan saya kena selomot rokok seorang cowo gendut yg motret pakai kamera HP sambil merokok. Saat ada ombak, dia takut basah, jadi loncat-loncat dan rokoknya kena tangan saya. Setelah saya menjerit dan ngomel2, baru dia minta maaf. Rese tuh orang, kalo mau motret ya motret, kalo mau merokok, jangan motret, minggir sono ... baru kena ombak aja udah loncat-loncat. Kalo takut basah, jangan ke pantai, ke gunung aja ....
Sunset di Pantai Pangumbahan ini sebetulnya cukup bagus untuk foto-foto, tapi kita sudah diusir oleh petugas karena ombak cukup besar. Yg lebih penting lagi, karena begitu gelap, penyu dewasa yg akan bertelur akan segera datang. Jika suasana pantai ramai, banyak orang, dan ada cahaya, mereka tidak jadi datang. Mereka akan berenang lagi ke laut hingga suasana pantai kondusif.
Nanti malam saya dan teman-teman akan kembali ke sini lagi untuk melihat telur penyu menetas dan melihat penyu bertelur.
Dari Pantai Pangumbahan ke penginapan sekitar 20 menit naik ojek yg tadi. Kita melewati pantai yg banyak orang surfing. Maksud hati ingin minta berhenti di situ untuk motret blue hour, tapi tidak kesampean. Padahal pantainya cantik.
Pantai Ujung Genteng di depan penginapan sebetulnya bagus untuk foto sunset, dan foregroundnya bagus juga ... ada batu-batu karang dan lumut. Dan sunset memang terlihat di situ (Pantai Barat). Tapi begitu saya tiba di sana, hari sudah gelap. Golden sunset sudah lewat, blue hour juga sudah lewat ...
Saya sekamar dengan Liendha. Lokasi kamar kita di paling depan. Ada connecting door ke aula tempat kita makan malam. Setelah mandi, kita ke aula untuk BBQ. Denny dan Ibu Lina yg mempersiapkan BBQ alias bakar-bakaran. Juga ada bakso kuah. Makan malam kita lumayan OK dan berlimpah, boleh nambah sampai puas.
Denny mendata siapa yg mau melihat penyu bertelur. Ini acara optional, dengan membayar ongkos ojek Rp 35.000/pax dan sumbangan ongkos masuk ke konservasi penyu. Dari group saya, semua ikut kecuali mama saya yg perutnya sakit. Kita menunggu di kamar masing-masing. Kalau penyu sudah datang dan mulai buat sarang di pasir, kita akan dijemput tukang ojek. Sekitar jam 8 malam, kamar kita digedor oleh Denny dan tukang ojek sudah berjajar manis di halaman. Kita nyemplak di motor dan offroad ke Pantai Pangumbahan.
next posting :
Pantai Pangumbahan - Penyu Bertelur
rgds,
Lucy
Subscribe to:
Posts (Atom)



















































