Welcome to v1olet Blog


All photos, unless I mention and credit the source, are my personal photo stocks. If you like my photos and would like to use them, please ask by writing your comment.

Showing posts with label Pantai Ujung Genteng. Show all posts
Showing posts with label Pantai Ujung Genteng. Show all posts

Saturday, October 05, 2013

Travel : Ujung Genteng Trip - Pantai Ujung Genteng dan Pondok Hexa

Pantai Ujung Genteng
8 September 2013


Bagus gak Ujung Genteng ?  Begitu pertanyaan teman-teman saya.  Kata orang, bagus enggaknya tergantung mata yang melihat.

Dari mata fotografer, pantai ini sih bagus, apalagi untuk foto sunset, sebab lokasinya di sebelah Barat.  Ada batu karang dan lumut yang bagus buat foreground.  Sayangnya kemarin saya kelewatan moment foto sunset.






Dari mata wisatawan, pantai ini masih bagus karena pasirnya putih dan agak besar-besar, airnya bening dan dingin, ombaknya tidak terlalu besar sebab sudah tertahan karang-karang yg agak di tengah.  Cocok buat berendam dan main air.  Kalau mau berenang juga boleh.  Tapi karena pasirnya besar-besar dan kasar, kalau tidak pakai sendal, tapak kaki kita rada sakit.  Pantai di sini lumayan bersih, relatif tidak ada sampah bertebaran dan tidak ada orang jualan.  Yg jualan di pinggir jalan saja, tidak sampai turun ke pantai.



Pagi ini saya bagun jam 5 dan gak bisa tidur lagi.  Tahu begini, saya OK kan ajakan tukang ojek untuk foto sunrise he he he ...  Akhirnya saya putuskan untuk bangun dan jalan-jalan sendiri sambil motret sebisanya di Pantai Ujung Genteng di depan penginapan.  Foto-foto di atas adalah hasilnya.

Sewaktu saya masih foto-foto, Liendha menyusul dan ngajak sarapan.  Sarapan kita adalah nasi uduk dengan sambel kacang plus kerupuk.  Setelah sarapan, saya mau main air di pantai sambil foto-foto narsis.  Begitu sampai di pantai, saya lihat tante saya sudah nyemplung di air dan ngajakin saya join nyemplung.  Cannot tahan ... saya ikutan nyemplung deh ... asik, dingin, dan segar.  Tak lama kemudian, sepupu saya datang ke pantai, tujuannya mau pinjam kunci kamar, eh ... akhirnya ikutan nyemplung.  Jadinya kita bertiga main air.

Yang sudah mandi, tidak berani dekat-dekat air ... duduk-duduk saja, makan angin pantai.




Tidak bisa terlalu lama main air karena musti check out pagi ini untuk melanjutkan perjalanan ke Amanda Ratu dan Air Terjun Cikaso.

Pondok Hexa

Oya sedikit tentang penginapan kita yg namanya Pondok Hexa.  Bentuknya seperti rumah-rumah yang terdiri dari beberapa kamar. Tiap kamar ada pintu yg menghadap ke luar dan ada connecting door ke ruang tengah.  Jadi bisa disewa individual, bisa juga sebagai satu rumah.  Kamar saya paling depan, jadi bisa langsung menghadap ke jalan dan pantai.



Bangunannya agak tua, tapi sebagian sudah direnovasi.  Herannya hampir tiap kamar, pintu kamar mandinya rusak dan tidak bisa dikunci.  Untungnya kita saling menghormati sehingga walaupun pintu kamar mandi tidak dikunci, dan hanya ditutup/terbuka sedikit, kita tidak ngintip atau buka pintu sembarangan he he he ...  Sepertinya Pondok Hexa perlu perbaikan pintu-pintu.  Di sini juga ada kolam renang yg lumayan bagus.  Jadi yg tidak mau berenang di pantai, bisa renang di kolam.


Jam 9.30 kita meninggalkan Pondok Hexa, menuju ke Amanda Ratu.

Next Posting : Amanda Ratu

rgds,
Lucy

Tuesday, September 24, 2013

Travel : Ujung Genteng Trip - Penyu Bertelur di Pantai Pangumbahan

Ujung Genteng Trip - Penyu Bertelur di Pantai Pangumbahan
7 September 2013


Apa beda penyu dan kura-kura ?  Penyu hidup di laut dan bentuk kaki dan tangannya rata seperti dayung dan tidak berkuku. Kura-kura hidup di darat dan kaki dan tangannya berkuku.

Di Pantai Pangumbahan ada 4 Pos lokasi penyu bertelur. Masing-masing ada petugasnya dan mereka bekerja dalam gelap. Mereka menggunakan radio HT untuk komunikasi.  Suasana di tiap pos diusahakan sepi dan gelap supaya penyu mau datang bertelur.  Juga dijaga supaya tidak ada babi hutan, sebab kalau ada babi hutan, penyu tak jadi bertelur.  Tapi predator utama yg suka mengambil telur penyu adalah manusia.  Penyu bisa bertelur dalam hujan, asal tidak banyak petir.

Penyu yg datang bertelur di Pantai Pangumbahan adalah Penyu Hijau, Penyu Sisik, dan Penyu Lekang.  Mayoritas adalah Penyu Hijau.  Penyu mulai bertelur pada usia 28 tahun.  Dia akan bertelur sebanyak 7 kali, setelah itu dia akan menghilang selama 4 tahun.  Setelah itu akan bertelur lagi sebanyak 7 kali, dst.  Usia penyu bisa ratusan tahun.

Telur penyu bentuknya seperti bola pingpong. Kulit telurnya elastis bisa penyok-penyok tapi tidak pecah.  Banyak orang makan telur penyu untuk menambah tenaga dan vitalitas.  Kalau direbus, telur tidak mengeras, tetap elastis penyok-penyok. Putih telurnya tidak bisa keras, tapi tetap cair seperti ingus.  Kuning telurnya besar dan creamy.  Rasanya amis, lebih amis dari telur ayam atau telur bebek atau lainnya.

Pada waktu kita tiba di sana, kita belum boleh melihat penyu bertelur.  Kita disuruh menunggu sambil melihat telur penyu menetas.  Ada 2 cara menetaskan telur penyu, yaitu cara alami dan semi alami.  Cara alami adalah tanpa memindahkan telur-telur dari sarang yg dibuat induknya.  Setelah menimbun telurnya, sang induk akan meninggalkan sarangnya dan kembali ke laut.  Petugas akan datang memasang pagar bambu di sekitar sarang dan memberi identitas sarang tsb.  Tujuannya untuk melindungi telur agar tidak dimakan binatang lain misalnya babi hutan.  Selain itu supaya tukik yg menetas tidak keluar dari pagar, tapi berkumpul di dalam pagar.



Cara semi alami adalah dengan memindahkan telur-telur penyu dari sarang yg dibuat induknya ke sarang baru di lokasi konservasi.  Lubang itu di pasir sedalam 60 cm dan dibuat berjejer berdasar waktu bertelur. Tidak dicampur dengan telur dari induk lain.  Lubang tsb juga dipasang pagar kawat dan diberi identitas berupa tanggal bertelur dan jumlah telur.  Telur yg dimasukkan ke situ tidak boleh ditaruh sembarangan atau dibolak-balik, tapi diambil sesuai posisinya di lubang asalnya.  Petugasnya sudah terlatih, sekali ambil 5 butir telur, dijepit di tangannya.  Seekor induk penyu bisa bertelur sampai seratus butir lebih.  Saat ini lebih banyak cara semi alami yg dipakai karena lebih tinggi tingkat keberhasilannya, lagi pula bisa mengatur jenis kelamin tukik.


Petugas mulai berjaga di lubang semi alami sejak senja sampai jam 6 pagi esok hari.  Telur penyu menetas sekitar 2 bulan. Telur-telur itu menetas di dalam lubang dan awalnya terlihat ada kepala penyu sekitar 2 atau 3 bergerak-gerak lambat. Warnanya hitam nongol di pasir putih. Tapi kalau kita tidak perhatikan sebentar saja, tahu-tahu sudah banyak tukik berkerayapan di kandang kawat.  Rupanya yg tadi nongol adalah yg paling atas, dan mereka didorong-dorong oleh saudara-saudaranya dari bawah sampai akhirnya mereka semua keluar dari lubang pasir.  Petugas datang mengambil tukik-tukik yg baru menetas itu, dihitung dan dicatat di cagak bambu identitas lubang.



Bagaimana kita bisa tahu jenis kelamin tukik ?  Kata petugas, dari suhunya. Saya dan sepupu saya langsung terbayang pak petugas mengukur suhu di ketiak tukik.  Tapi ternyata bukan suhu badan tukik, tapi suhu pasir di lubang/sarangnya.  Jika suhu pasir 35 derajat Celcius ke atas, kemungkinan besar tukik yg menetas adalah betina.  Jika suhu pasirnya 30 derajat Celcius ke bawah, kemungkinan jantan.  Makanya lubang untuk tukik jantan terletak di pasir yg adem, di bawah pohon.  Tentu saja jumlah lubang untuk yg betina lebih banyak daripada yg jantan.  Dengan demikian konvervasi bisa mengatur jenis kelamin tukik.

Tukik yg lahir malam ini akan dilepas di pantai besok sore.


Bolehkah memegang anak tukik yg baru lahir ?  Boleh kok, asal kita pegang ketiaknya. Waktu saya pegang keteknya, tangannya meronta-ronta dan terasa tenaganya sangat kuat.  Perkasa juga nih .. tadi sudah latihan boxing dorong-dorongan sampai berhasil keluar dari liang pasir.


Malam itu ada 4 ekor penyu yg datang ke Pantai Pangumbahan untuk bertelur.  Tapi mereka datangnya tidak berbarengan.  Saat penyu pertama dan kedua sedang membuat sarangnya, penyu ketiga dan keempat datang.  Kalau kita nonton penyu pertama dan kedua bertelur, maka penyu ketiga dan keempat tidak jadi bertelur dan akan kembali ke laut.  Jadi kita akan nonton penyu ketiga dan keempat setelah mereka bertelur sekitar 30 butir.  Mengapa setelah kira-kira 30 butir ? Kalau mereka baru buat sarang tapi kita sudah nontonin, mereka tidak jadi bertelur.  Tapi kalau sudah terlanjur bertelur, dia pikir "Ah ... udah terlanjur ... lanjutkan saja." 

Jam berapa kita menonton penyu bertelur ?  Lewat dari jam 24:00 alias jam 12 malam lebih.  Kita hampir pengen pulang saja sebab capek, ngantuk, dan dingin.  Takut besok gak bisa bangun.  Ternyata lama banget penyu bikin sarang.  Akhirnya kita jalan beriringan menuju pantai tanpa boleh menyalakan senter, apalagi menyorot senter ke laut.  Penyu itu ternyata besar sekali, panjangnya lebih dari 1 meter, kira-kira 1,1 meter - 1.25 meter.  Kita tidak boleh nonton dari depan atau dari samping, tapi harus dari belakang.  Pantai gelap gulita.  Ada petugas yg mengatur kita dan hanya senter dari petugas yg boleh menyorot.  Terlihat penyu mengeluarkan telur-telurnya. Kita diberi kesempatan memotret bergantian, setelah itu kita disuruh kembali ke konservasi.  Menunggu berjam-jam, menontonnya kurang dari 5 menit.  Memang harus sabar.



Saat kembali ke konservasi, ada petugas yg membawa seember telur penyu dari induk pertama dan kedua yg sudah lebih dulu bertelur.


Kita naik ojek lagi menembus dinginnya malam kembali ke penginapan.  Saya lapar, jadi saya gedor kamar mama saya untuk minta roti.  Saya makan roti dulu, minum tolak angin, baru cuci muka dan gosok gigi, lalu tidur.  Capek banget.

Sebetulnya tukang ojek menawarkan untuk melihat sunrise di Pantai Timur dekat Pelelangan Ikan besok pagi.  Sunset diperkirakan sekitar jam 5 pagi.  Jadi tukang ojek akan jemput sebelum itu.  Tapi saya ragu bisa bangun jam segitu, karena hari ini terlalu capek.  Jadi saya tolak ide itu, yg belakangan saya sesali.  Sudah gak dapat foto sunset, gak dapat foto sunrise pula.  Satu alasan mengapa saya harus kembali lagi ke sini suatu hari .... ha ha ha ....

Next Posting :
Pantai Ujung Genteng dan Pondok Hexa

rgds,
Lucy


Sunday, September 22, 2013

Travel : Ujung Genteng Trip - Melepas Tukik di Pantai Pangumbahan

Ujung Genteng Trip : Pantai Pangumbahan - Melepas Tukik
7 September 2013


Naik Ojek dari Pantai Cipanarikan ke Pantai Pangumbahan sekitar 10 menit Offroad.  Pantai Pangumbahan itu adalah lokasi konservasi penyu.  Saat itu menjelang sunset, tukik atau anak penyu sudah ditaruh di beberapa ember dan siap dilepas.  Gerbang sudah ditutup dan kita disuruh buru-buru menuju kumpulan penonton di tepi pantai.  Pemandangan pantai sangat indah, hari sudah orange keemasan.


Tukik di ember, siap dilepas ke pantai


Petugas mulai membawa ember-ember berisi tukik yg katanya berjumlah 700 ekor yg menetas tadi malam, dan menumpahkan isi ember di pasir yg jaraknya lumayan jauh dari air pantai.  Mengapa dilepas di pasir, bukan langsung di air pantai ?  Itu supaya anak tukik bisa merekam jejak-jejaknya di Pantai Pangumbahan itu.  Believe it or not, 28 tahun kemudian mereka akan kembali ke Pantai Pangumbahan ini untuk bertelur.  Hebat bukan ... anak tukik yg menetas dari telur tadi malam, jadi umurnya belum genap 1 hari, bisa mengingat jalan untuk pulang ke pantai kelahirannya kalau nanti sudah dewasa.  Mengetahui fakta ini, membuat saya berpikir tentang keagungan Allah yg menciptakan alam semesta dan isinya yg begitu unik.



Tersapu ombak ... Berjuang untuk keluar dari lubang jejak kaki kita ...


Usaha dan perjuangan tukik ini dimulai sekarang .... dari pasir ke air saja sudah susah.  Terseok-seok, disapu ombak, terbawa ke pasir lagi, bahkan ada yg sampai terbalik ....  Ini baru di pantai, apalagi setelah mereka berhasil berenang di laut, kehidupan mereka terancam banyak bahaya.  Bahaya gelombang laut, dan yg terutama dari serangan predator.  Menurut data, dari 700 ekor yg dilepas hari ini, persentase mereka kembali ke Pantai Pangumbahan adalah sekitar 5% saja bahkan kurang dari itu.  Mereka mengarungi laut dan samudera bahkan ada yg sampai ditemukan di Pantai Amerika.  Tapi pada waktunya mereka akan kembali ke sini.

Tukik terbalik ... gak boleh ditolongin, harus bisa tengkurap sendiri :)



Oya ada kejadian menyebalkan saat saya motret pelepasan anak tukik. Saat lagi motret, tangan saya kena selomot rokok seorang cowo gendut yg motret pakai kamera HP sambil merokok.  Saat ada ombak, dia takut basah, jadi loncat-loncat dan rokoknya kena tangan saya.  Setelah saya menjerit dan ngomel2, baru dia minta maaf.  Rese tuh orang, kalo mau motret ya motret, kalo mau merokok, jangan motret, minggir sono ... baru kena ombak aja udah loncat-loncat.  Kalo takut basah, jangan ke pantai, ke gunung aja ....

Sunset di Pantai Pangumbahan ini sebetulnya cukup bagus untuk foto-foto, tapi kita sudah diusir oleh petugas karena ombak cukup besar.  Yg lebih penting lagi, karena begitu gelap, penyu dewasa yg akan bertelur akan segera datang.  Jika suasana pantai ramai, banyak orang, dan ada cahaya, mereka tidak jadi datang.  Mereka akan berenang lagi ke laut hingga suasana pantai kondusif.


Nanti malam saya dan teman-teman akan kembali ke sini lagi untuk melihat telur penyu menetas dan melihat penyu bertelur.

Dari Pantai Pangumbahan ke penginapan sekitar 20 menit naik ojek yg tadi.  Kita melewati pantai yg banyak orang surfing.  Maksud hati ingin minta berhenti di situ untuk motret blue hour, tapi tidak kesampean.  Padahal pantainya cantik. 

Pantai Ujung Genteng di depan penginapan sebetulnya bagus untuk foto sunset, dan foregroundnya bagus juga ... ada batu-batu karang dan lumut.  Dan sunset memang terlihat di situ (Pantai Barat).  Tapi begitu saya tiba di sana, hari sudah gelap.  Golden sunset sudah lewat, blue hour juga sudah lewat ... 

Saya sekamar dengan Liendha.  Lokasi kamar kita di paling depan.  Ada connecting door ke aula tempat kita makan malam.  Setelah mandi, kita ke aula untuk BBQ.  Denny dan Ibu Lina yg mempersiapkan BBQ alias bakar-bakaran.  Juga ada bakso kuah.  Makan malam kita lumayan OK dan berlimpah, boleh nambah sampai puas.

Denny mendata siapa yg mau melihat penyu bertelur.  Ini acara optional, dengan membayar ongkos ojek Rp 35.000/pax dan sumbangan ongkos masuk ke konservasi penyu.  Dari group saya, semua ikut kecuali mama saya yg perutnya sakit.  Kita menunggu di kamar masing-masing.  Kalau penyu sudah datang dan mulai buat sarang di pasir, kita akan dijemput tukang ojek.  Sekitar jam 8 malam, kamar kita digedor oleh Denny dan tukang ojek sudah berjajar manis di halaman.  Kita nyemplak di motor dan offroad ke Pantai Pangumbahan.

next posting :
Pantai Pangumbahan - Penyu Bertelur

rgds,
Lucy

Saturday, September 21, 2013

Travel : Ujung Genteng Trip - Pantai Cipanarikan

Ujung Genteng Trip - Pantai Cipanarikan
7 September 2013


Bertahun-tahun yg lalu om saya mengajak ke Ujung Genteng untuk melihat penyu bertelur, tapi keluarga besar Abidin belum pada berminat.  Tapi sejak suka motret, jadi kepengen juga ke Ujung Genteng.  Problemnya adalah susah cari teman seperjalanan.  Bolak-balik buka website sunburst adventure cuma baca itinerary, tapi tidak daftar.  Sampai akhirnya berhasil ajakin Anny.  Jadilah kita berdua daftar untuk trip ke Ujung Genteng tgl 7-8 September 2013.  Lalu Anny ajak 2 orang temannya dan saya ajak Liendha.  Jadi total berlima. Eh ... pas libur Lebaran, tante saya bilang dia mau ikut.  So nambah mama saya, tante, sepupu dan temannya.  Group jadi bersembilan.  Rame euy!

Biaya tour Rp 599.000,-/pax (kamar AC berdua) dan paket makan Rp 95.000,-/pax.  Murah meriah menurut saya.  Info selengkapnya lihat website sunburst adventure tour ujung genteng.


ITINERARY UJUNG GENTENG - CIPANARIKAN
Day 1


05.45 - 14.00  Perjalanan ke Ujung Genteng 
14.00 - 15.00  Pembagian kamar hotel
15.00 - 18.00  Ke Pantai Cipanarikan, dan Pangumbahan melepas penyu 
19.00 - 20.00  Makan malam (kumpul di aula)




Day 2


07.00 - 08.00  Sarapan pagi (di aula)
08.00 - 09.30  Waktu bebas
09.30 - 10.00  Perjalanan ke Amanda Ratu
10.00 - 11.00  Bersantai dan menikmati pemandangan Amanda Ratu
11.00 - 12.00  Perjalanan ke Air Terjun Cikaso
12.00 - 13.30  Menikmati Air Terjun Cikaso + makan siang
13.30 - 21.00  Perjalanan pulang ke Jakarta

Tibalah hari bahagia, Sabtu 7 September 2013.  Saya bangun jam 4 pagi dan berangkat jam 4.30 subuh.  Tiba di depan Mal Taman Anggrek jam 5 pagi.  Bis seukuran metro mini (Bis Pariwisata dari Bandung) sudah parkir dengan manisnya di situ.  Saya dan mama langsung naik bis dan pilih tempat di depan. Tour Leader kita adalah Denny dan ada Ibu Lina yg mendampingi untuk konsumsi.  Peserta lain mulai berdatangan dan kira-kira jam 6 kurang dikit, semua peserta sudah kumpul kecuali seorang temannya Anny yg batal berangkat karena sakit, dan Liendha yg ditanggok di Rest Area Sentul (dia sudah pilih Hot Seat dengan membayar biaya tambahan).  Jadi total peserta 24 orang.  Eh ... tiba-tiba mesin bis mati, nah lohhhh ...  Supir dan mekanik berusaha memperbaiki bis dan katanya akan ganti bis.  Tapi akhirnya kita tetap pakai bis itu karena berhasil diperbaiki.

Kita berangkat jam 6.45, telat dari jadwal.  Perjalanan agak tersendat karena beberapa kali bis mogok dan perlu perbaikan.  Kita berhenti beberapa pompa bensin untuk ke toilet.  Kira-kira jam 12 lewat, kita berhenti di dekat kebun teh/hutan karet untuk istirahat makan.  Sepertinya memang itu pos langganan Sunburst utk rehat, sebab ada pondok untuk lesehan, toilet, dan warung-warung yg jualan buah, makanan dan minuman.  Kita makan nasi box.  Menunya enak, masakan rumahan -- pindang telur, tahu, kentang balado, acar kuning dan ikan goreng tepung.  Ternyata itu masakan Ibu Lina.  Mama saya sempat beli jambu air yg memang lagi musim di situ.  Sepanjang jalan banyak orang jualan jambu air dan pohon-pohon jambu air lagi berbuah lebat.  So dessert kita adalah jambu air yg segar manis-manis jambu.  Emang jambu sihhhh ....


Perjalanan panjang sekitar 9 jam dan kita tidur - bangun - ngobrol - ngemil, tidur lagi, berapa ronde tuh tidurnya ...  Akhirnya tiba di kawasan Ujung Genteng sekitar jam 4 sore.  Jalannya kecil, itu sebabnya tidak bisa pakai bis pariwisata yg besar, bisanya bis 3/4 atau mobil biasa.

Kita menginap di Pondok Hexa.  Bentuknya seperti cottage/rumah dengan kamar-kamar individual.  Next posting lebih komplit ulasan ttg Pondok Hexa.


Seperti kata Denny, setelah dibagi kamar, kita langsung menuju Pantai Cipanarikan dengan naik ojek motor, boleh dipilih kang ojek yg disukai, yg body L-Men lahhh ....  Jalanan agak offroad berpasir-pasir.  Sebetulnya bisa ditempuh dengan mobil kecil.  Berbarengan dengan kita, ada rombongan Sirion Club.  Ada mobil Kijang yg amblas di pasir juga.

Saya dan Liendha termasuk yg paling akhir berangkat, tapi ojek kita ngebut, bisa nyamperin rombongan mama saya yg sudah duluan berangkat.  Dari parkir ojek sampai ke lokasi Pantai Cipanarikan masih harus jalan kaki di jalan setapak yg bersemak-semak.  Mana pantainya nih ... kok yg kelihatan malah rawa-rawa or muara ?  Inilah pantainya ....


Akhirnya sampai juga ke Pantai Cipanarikan.  Rombongan kita sudah pada sibuk foto-foto narsis.  Pasirnya halus dan putih.  Ombaknya lumayan besar dan saat itu teman-teman saya tak ada yg main-main air.  Sibuk foto-foto semua.  Kebetulan matahari sudah mulai turun, low light kalau istilah fotografinya. Cahayanya cantik keemasan, cocok untuk foto yg angelic-angelic gitu atau siluet ... hmmm tambah narsis deh ... foto loncat-loncat.







Kita cuma sebentar di sini sebab musti ke Pantai Pangumbahan untuk melepas tukik.  Waktu mepet, jadi minim foto landscape padahal udah bawa tripod dan filter tapi gak sempat dipakai. Seadanya aja.  Memang ini group jalan-jalan, bukan group fotografi.  Jadi yg utama jalan-jalannya, kalau dapat foto bagus ... itu namanya bonus.  Mungkin next time ke sini lagi ikut group fotografi supaya bisa foto sunset dan sunrise sampai puas.


Kita naik ojek yg tadi lagi menuju Pantai Pangumbahan.

Next Posting :
Melepas Tukik di Pantai Pangumbahan

rgds,
Lucy